Exponential Growth Analysis : Keberlanjutan Pilkada Kota Balikpapan 2020 di Tengah Pandemi Berdasarkan Pemodelan Matematika Sederhana
#Juara 1 Lomba Essai Nasional Geometri 2020 dengan tema Genius on Mathematics in Real Application
Apabila kedua variabel tersebut digabungkan dengan variabel kasus positif
Covid-19 di Balikpapan (Nh) sebanyak 2.976 kasus, maka dapat diprediksi kasus
positif Covid-19 di Balikpapan dalam satu hari pelaksanaan sebagai berikut.
Indonesia tercatat memiliki 275.213 kasus positif Covid-19 dengan total
pasien meninggal berjumlah 10.386 orang per 27 September 2020. Konfirmasi
kasus positif Covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan.
Peran pemerintah pun dianggap berpengaruh penting dalam kebijakan terkait
fenomena ini. Sayangnya, pemerintah Indonesia dinilai lambat dalam
mengantisipasi penyebaran Covid-19 sejak dini.
Penilaian ini bukan tidak beralasan. Pasalnya, sebelum kasus pertama
Covid-19 terkonfirmasi, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Agus Terawan,
sempat menganggap remeh salah satu penelitian Matematik yang dilakukan
sekelompok peneliti di Universitas Harvard. Penelitian yang menggunakan model
penelitian Regressi Poisson tersebut mengungkapkan hasil bahwa Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki peluang terinfeksi virus bahkan
seharusnya sudah terinfeksi Covid-19 pada awal Maret 2020 .
Selain itu, setelah kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi, beberapa peneliti
akademis melakukan berbagai penelitian untuk memprediksi laju penyebaran
Covid-19 di Indonesia melalui pemodelan matematika, salah satunya Pusat
Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang
menggunakan Richard’s Curve. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa akhir
Maret 2020 lalu merupakan puncak pandemi. Hal tersebut seharusnya dapat
memberikan infromasi kepada pemerintah agar bisa memberikan prioritas utama
dalam upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 sejak dini. Namun,
pemerintah pusat baru mengeluarkan PP No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan
Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19
pada 31 Maret 2020 dengan total kasus pasien positif sudah mencapai 1.528 orang
dan 136 orang meninggal dunia.
Mirisnya, di tengah lonjakan kasus Covid-19, pemerintah menetapkan
pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020 yang akan digelar secara serempak di 270
daerah di Indonesia, termasuk Kota Balikpapan. Kota Balikpapan ini dikonfirmasi
memiliki 1.500 TPS dengan pemilih sementara sebanyak 445.244 data yang
ditetapkan oleh KPU Kota Balikpapan pada 13 September 2020. Padahal, Kota
Balikpapan saat ini menjadi salah satu kota yang berstatus zona merah Covid-19
dan terkonfirmasi menyumbang kasus Covid-19 sebanyak 2.967 kasus per 26
September 2020. Berkenaan dengan itu, sangat diperlukan analisis keberlanjutan
dan penstrategian pelaksanaan Pilkada Kota Balikpapan 2020 di tengah pandemi,
salah satunya dengan menggunakan pemodelan matematika sederhana.
Model matematika sederhana yang dapat digunakan dalam menganalisis
hal tersebut yakni model pertumbuhan eksponensial (exponential growth). Hal
tersebut cukup direkomendasikan karena penyebaran Covid-19 yang massif
merupakan gambaran nyata dari pertumbuhan eksponansial. Hal ini digambarkan
pada sebuah asumsi bahwa mulanya satu virus membelah diri menjadi dua virus
pada hari pertama. Kemudian, pada hari kedua, kedua virus masing-masing
membelah diri sehingga total virusnya menjadi empat virus. Pada hari ketiga,
keempat virus tadi kembali membelah diri sehingga totalnya menjadi enam belas
virus. Pertumbuhan ini berlanjut terus menerus dengan kelipatan dua, sehingga
laju pertumbuhannya sangat cepat. Konsep laju pertumbuhan virus tersebut sama
dengan konsep model pertumbuhan eksponensial dengan rumus: jumlah virus =
2
x
, dengan x merupakan hari pertumbuhan virus tersebut.
Berkenaan dengan konsep itu, jika dikaitkan dengan perkembangan kasus
Covid-19, kita dapat membuat model rumus sederhana dari beberapa variabel
yang mempengaruhi keberadaan kasus Covid-19, yakni jumlah kasus Covid-19
per hari (Nh), jumlah rata-rata orang yang bertemu pasien Covid-19 (R), dan
peluang tertular Covid-19 (P). Ketiga variabel tersebut dapat dituangkan ke dalam
rumus sederhana berikut.
∆𝑁ℎ = 𝑁ℎRP
Konsep ini, jika dijadikan studi kasus dalam perkembangan kasus Covid-19
pascapelaksanaan Pilkada Kota Balikpapan 2020 untuk memprediksi tindakan
yang seharusnya diambil dalam menentukan keberlanjutan pilkada tersebut, dapat
disubstitusikan dengan uraian data simulasi Pilkada Kota Balikpapan.
Pada Pilkada Kota Balikpapan, data pemilih sementara (DPS) adalah
445.244 orang yang terbagi ke dalam 1.500 TPS sehingga tiap TPS rata-rata
memiliki 290 DPS. Pelaksanaan Pilkada Kota Balikpapan 2020 tiap TPS akan
dibagi ke dalam beberapa estimasi waktu memilih yang berbeda dengan rata-rata
10 orang tiap estimasi waktu memilih, termasuk panitia dan saksi. Jadi,
kemungkinan pasien positif dalam hal ini merupakan pasien yang tidak
mengalami gejala. Berdasarkan hal tersebut, dapat disubstitusikan rata-rata orang
yang berinteraksi dengan pasien Covid-19 dalam satu wilayah TPS di Balikpapan
(Rt) sebanyak 9 orang dengan kemungkinan hanya satu orang yang terjangkit
virus Covid-19. Jadi, rata-rata orang yang berinteraksi dengan pasien Covid-19
dalam satu estimasi waktu memilih di Balikpapan (Rs) sebanyak 13.500 orang (9
orang x 1.500 TPS).
Berkenaan dengan itu, peluang masyarakat saling berinteraksi dengan
pasien Covid-19 yang tidak mengalami gejala secara acak dalam satu estimasi
waktu memilih dengan jumlah masyarakat sebanyak 10 orang dapat ditentukan
dengan combination formula berikut.
Berdasarkan perhitungan tersebut, peluang masyarakat berinteraksi dan tertular
oleh pasien positif yang tidak terdeteksi yakni:
Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh kasus positif Covid-19 di Balikpapan
pascapilkada meningkat dari 2.976 kasus menjadi 180.794.976 kasus atau hampir
enam kali lipat dari kasus prapilkada dalam kemungkinan terburuk.
Jumlah kasus Covid-19 yang sangat berkembang pesat dari simulasi
prapilkada hingga pascapilkada ini menunjukkan bahwa wacana pelaksanaan
Pilkada Kota Balikpapan 2020, termasuk pilkada di daerah lain, perlu
dipertimbangkan lagi keberlanjutannya. Hal tersebut sangat krusial karena
simulasi perhitungan tersebut dikondisikan pada pemberlakuan protokol kesehatan
pencegahan Covid-19 pada saat pilkada berlangsung. Meskipun demikian, hasil
perhitungan tetap menunjukkan peningkatan kasus yang mencapai enam kali lipat
dari kasus awal. Selain itu, jika salah satu variabel dikurangi –variabel yang hanya
dapat dikurangi yakni variabel P (dengan penyemprotan disenfektan pemakaian
masker, pemakaian alat sekali pakai)– kasus yang terjadi tidak dapat menurun
secara signifikan atau kasus menurun secara signifikan (misal hanya satu kali lipat
kenaikannya), tetapi fasilitas kesehatan tidak dapat menampung dengan baik
kasus tersebut dalam kurun waktu yang bersamaan.
Berkenaan dengan hal tesebut, Pilkada Balikpapan 2020 sebaiknya ditunda
hingga masa pandemi berakhir. Penulis tidak menyarankan pelaksanaan secara
daring karena variabel R dan P tetap ada dan tetap memberikan pengaruh yang
cukup signifikan meskipun nilai dari variabel R (besarnya dikurangi dengan
melakukan social distancing) dan P dikurangi. Hal tersebut tidak bisa dihindari
karena meskipun pelaksanaan secara daring, panitia KPPS masing-masing TPS
tetap akan berkumpul guna memaksimalkan kelancaran pilkada daring tersebut,
belum lagi masyarakat yang keterbatasan dari segi sarana dan prasarana.
Studi kasus tersebut menunjukkan bahwa pemodelan matematika
sederhana merupakan gagasan yang cukup cepat dan tidak kalah akurat dalam
menjelaskan fenomena sosial dalam bentuk bahasa matematis sehingga
menggambarkan realita itu sebaik mungkin dan menawarkan solusi permasalahan.
Di tengah situasi pandemi ini matematika hadir dengan peran penting dalam
menganalisa kondisi terkini agar pemerintah dapat memberikan kebijakan terbaik
dalam penanganannya serta masyarakat dapat memahami dan meningkatkan
kesadaran diri dalam pentingnya memprioritaskan protokol kesehatan.

👏👏👏
ReplyDelete